Wednesday, September 28, 2016

Di Tengah Selasar Pasar

Di tengah selasar pasar
bersama Selasa malam, Rabu pagi, dan barisan bocah Sekolah Dasar.
Saya mencaci dia yang belagak gak peka.
Berbalut senyum indah penakluk pria,
dia berkata fiksi yang disulap seolah fakta.
Terasa nyata.
Tapi penuh tanda tanya.
Siapa sangka? Di balik sebuah senyum,
terdapat serum bahagia;
menyandu.
Lebih melayangkan dari daun berjari lima.
Lebih mengikat dari fungi di tumpukan tai sapi.

Kamu gadis yang paling menyita waktu.
Kamu gadis bungsu, yang pernah saya buru.
Kamu candu yang berjubah lugu.
Merapal bual yang awet difermentasi rindu.
Kamu cinta di ujung pucuk tabu.

Saturday, August 27, 2016

Puan Justisia

Hai, Puan Justisia.
Tuhan sudah menciptamu

entah dengan rusukku,
atau hanya sebagai guruku.

Kelakar yang kita lempar

mungkin bisa menjadi benar
jika disematkan dalam kamar.
Tuntun aku, Puan Justisia.

Setelah itu, aku akan berdiri

satu langkah di depan; mengimami.
Itu kan yang kamu cari,
Puan Justisia?

Belum cukupkah petualanganmu?
Siapa lagi yang ingin kamu bagi?
Dentum apa yang kamu tunggu?
Tidak terasa kah jantungku?
Atau memang kamu yang terlalu terasah?
Aku akan menunggumu menyerah.
Bila saat itu datang,

buka kembali lemarimu
Di sana, sempat kuletakkan sebuah peta arah rumahku.

Friday, July 1, 2016

Doa Seorang Penempur

Berbotol anggur telah gugur.
Seorang penempur menghunus pedangnya ke lumpur.
Dia tersungkur.
Di tengah nafas yang kabur,
dia bersyukur;

"Tuhan,
dulu Kau sempat menyematkan
hati saya di seorang yang memberi nyaman.
Sekarang,
setelah saya lolos dari jurang kehinaan,
saya mohon berikan lagi seorang yang seperti itu, Tuhan.

Bila Kau hanya membuat satu yang seperti itu,
tolong sinari jalan berbatu
yang akan saya tempuh
untuk kembali pada orang itu.
Untuk kembali pada wanita itu.
Kembali pada si Bungsu
yang lahir pada tanggal dua puluh satu."

Saturday, June 18, 2016

Saat Mentari Meninggi

Ketika terpejam adalah sebuah tujuan.
Awan-awan angan, penuh khayalan.
Burung bernyanyi menyambut pagi,
dan aku siap bermimpi.

Detik demi detik berirama.
Tidak menyapa. Lewat begitu saja.
Saat mentari meninggi
aku siap bermimpi.

Thursday, June 16, 2016

Si Fakir

Di dasar cangkir, di dekat ampas kopi yang hitam pekat;
sebuah alas pikir yang paling hebat.
Di pasar malam, tempat ampas kopi terjulat cepat;
seorang fakir melempar bualan dengan cekat.

Saat deru knalpot mulai memenuhi telinga, Si Fakir menghentikan bualannya. Bekas tawa masih menempel di pipinya. Namun gelap hadir di matanya.

Tanpa suara,
tanpa bahasa.

Ribuan jendela terbuka.
Ribuan keluh telah sirna.

Saat Si Fakir bangkit dari singgasana berjalan, diiringi sayu redup mata rembulan, para terbual mulai sadar perlahan. Sadar akan panggung yang hanya khayalan.

Di dasar cangkir, di samping ampas kopi yang hitam pekat;
sebuah alas pikir yang paling hebat.
Di pasar malam, tempat ampas kopi terjual cepat;
seorang fakir telah diangkat menjadi raja setempat.